KPU.GO.ID

by

Pertama Kali, Prajurit Wanita Dikirim Jaga Perbatasan
Upacara pelepasan dilakukan dengan “mubeng benteng” di Yogya.
Jumat,23 Mei 2014
Foto: Antara Foto: Antara

Protap Riau.Com, Yogyakarta- Masyarakat Yogyakarta bersama dengan TNI-Polri menggelar acara laku budaya “Mubeng Beteng” (mengelilingi benteng) sebagai wujud manunggalnya Rakyat, TNI-Polri. Acara ini juga digelar untuk melepas keberangkatan prajurit TNI-Polri yang bertugas ke daerah perbatasan Indonesi.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), secara simbolis memasang ikat kepala kepada perwakilan prajurit di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, Minggu sore 28 April 2013. Kali ini, untuk pertama kalinya, prajurit wanita dikirim menjaga perbatasan.

Berjalan berkeliling beteng bersama diawali dengan rombongan cucuk lampah, kelompok punokawan diikuti Bregodo Banguntopo, pasukan bendera merah putih, anggota TNI-Polri kemudian ormas masyarakat seperti elemen FKPPI, Banser, Pemuda Panca Marga, Kotikam, Paguyuban Sepeda hingga resimen mahasiswa serta ratusan masyarakat Yogyakarta yang turut bergabung memberikan restu.

“Bagaimana bertugas dengan segala tanggung jawab dan disiplin, agar bisa laksanakan tugas dengan baik. Memang baru sekali ini kita adakan, semoga keberangkatan mendapatkan restu dari masyarakat Yogyakarta,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sultan HB X mengatakan, kegiatan bersama ini memberikan sinyal bahwa di Yogyakarta sebenarnya tidak ada masalah keamanan. Seluruh elemen masyarakat bersatu padu termasuk semangat manunggaling kawula dengan TNI-Polri terlihat nyata. TNI-Polri itu ada karena hanya dari, untuk dan oleh rakyat jelas tak bermasalah.

Brigadir Jenderal TNI Adi Widjaja, Komandan Korem 072/Pamungkas, menjelaskan ada 650 personel dari Batalyon Infantri 403, Kodam IV Diponegoro yang berangkat ke Kalimantan Barat. Sementara untuk Batalyon Infantri 407 dikirim ke Kalimantan Timur. Pasukan yang diberangkatkan ke perbatasan disebutkan menjalankan tugas rutin untuk back up keamanan wilayah.

“Tugas yang diemban akan dijalankan selama enam bulan di daerah operasi di perbatasan,” katanya.

Secara umum, kata Adi, kondisi perbatasan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, tidak ada masalah serius. Penugasan prajurit ke perbatasan merupakan tugas militer selain perang untuk pengamanan batas wilayah negara dan pembinaan teritorial.

“Kali ini ada pelepasan simbolis secara budaya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ini pertama bagi Batalyon Infantri 403, Ngarso Dalem memberikan restu. Banyak dari anggota yang berdomisili di Yogyakarta, ber-KTP Yogya. Hal yang khusus yaitu keberangkatan prajurit perempuan atau 4 anggota Korps Wanita TNI AD. Ini istimewa dan baru pertama kali, mereka kebetulan punya kemampuan sebagai tenaga medis,” kata Brigjen Adi Widjaja.

Beberapa tugas di perbatasan di antaranya mengantisipasi terjadinya penyelundupan, ilegal logging, ilegal fishing dan penyelundupan sabu-sabu yang kini banyak memanfaatkan perempuan.

Kemampuan prajurit KOWAD yang turut serta bisa dimanfaatkan untuk membantu tugas pemeriksaan yang tak mungkin dilakukan oleh prajurit pria saat menemui pelaku perempuan penyelundup sabu-sabu.

“Kalau soal manunggaling rakyat TNI-Polri, saya kira ini isunya terlepas dari kasus Cebongan. Di Yogyakarta kami bersama-sama jaga keamanan. Masyarakat perlu tahu tugas TNI ada tiga, menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah, menyelamatkan seluruh tumpah darah Indonesia. Menyelamatkan negara kita harus bersatu, maka kita bersama-sama,” katanya.

Adi menyatakan, peristiwa Hugo’s Cafe itu wajar saja mengakibatkan masyarakat resah, di mana ada preman membunuh prajurit. “Nah kami mengingatkan bersama lagi, tidak ada lagi istilah premanisme terselubung hidup subur, waktunya bersatu padu baik TNI-Polri untuk tujuan yang baik,” katanya.(VVN.C/DK)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *